Stepanus Agung Widodo SE, mengawali hidup sebagai seorang karyawan, kini terjun dan memulai untuk belajar bertani dengan cita cita ingin mewujudkan perubahan untuk PETANI INDONESIA MADANI (sejahtera). Semua diawali dengan 10ha kebun karet, 20ha kebun sawit 9ha kebun singkong. VISI = Petani Madani MISI = Mengembakan Teknolgi Pertanian Dengan Bahan Organik
Senin, 23 Maret 2015
Harga Duku Terjun Bebas
Singkat saja harga duku tahun ini sangat menyedihkan di pasar Induk Cibitung per tanggal 24 Maret 2015 ini hanya Rp. 3.300 /kg. Sungguh mengerikan.
Selasa, 17 Februari 2015
Penawaran / Jual Buah Duku
Saya petani lampung, ingin menawarkan buah duku saya yang akan saya jual di pohon (borongan pohon), hasil panen buah duku tersebut saya taksir sekitar 5,2 ton harga saya tawarkan Rp. 30.000.000,- nego. Pohon duku saya di pupuk dengan pupuk organik. Lokasi kebun saya ada di Tegineneng - Lampung
Demikian penawaran saya bagi yang berminat silahkan hubungi 081311178991 - atas nama Step
by-esawe
Demikian penawaran saya bagi yang berminat silahkan hubungi 081311178991 - atas nama Step
by-esawe
Kembali menanam harapan baru
Kembali lagi ke kebun untuk terus berusaha membuat hasil kebun menjadi optimal saya menggunakan metode baru yang tak terlepas dari penggunaan pupuk organik. Di musim tanam kali ini seluruh kegiatan pengolahan lahan saya awasi secara langsung, dari hasil pengawasan ini saya semakin mengetahui apa yang menjadi penyebab ketidak seimbangan selama ini antara modal penanaman dengan hasil panen.
Pengeceran pupuk dasar, korlap yang selama ini saya andalkan untuk mengatur dan mempraktekan apa yang telah saya rencanakan ternyata perhitunganya kurang akurat dan yang membuat proses pengeceran meleset 20% dari rencana saya, pembagian pupuk dasar yang tidak merata, serta jumlah orang yang mengecer yang ternyata kurang sehingga tidak dapat mengimbangi kecepatan jalan nya bajak (edet), membuat pupuk dasar tidak terbagi dan tidak terimbun dengan baik. Sangat beruntung saat itu saya langsung terjun mengawasinya sehingga kekurangan tersebut dapat segera saya minimalisir.
Proses menanaman, kembali lagi terjadi kesalahan dalam proses penanaman yaitu memotong bibit dengan golok yang menyebabkan pecahnya batang, dan hal ini langsung saya perbaiki caranya dengan menggunakan gergaji.
Pengaturan tenaga kerja yang tidak tepat terjadi sehingga banyak terjadi pemborosan waktu yang mana upah tenaga kerja adalah upah harian, dan saat itu juga segera saya atasi sehingga tenaga kerja dapat saya optimalkan secara optimal.
Ternyata sungguh sangat perlu di perhatikan bahwa dalam bertani banyak sekali faktor pengolahan lahan yang dapat menyebabkan hasil panen menjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan karena kasalahan atau kelalaian kecil dalam setiap proses penanaman.
Semoga ini dapat menjadi masukan bagi para petani bawasanya tidak cukup dengan modal yang maksimal tapi juga harus melakukan penanaman dengan cara yang optimal juga.
salam petani Indonesia
by-esawe
Pengeceran pupuk dasar, korlap yang selama ini saya andalkan untuk mengatur dan mempraktekan apa yang telah saya rencanakan ternyata perhitunganya kurang akurat dan yang membuat proses pengeceran meleset 20% dari rencana saya, pembagian pupuk dasar yang tidak merata, serta jumlah orang yang mengecer yang ternyata kurang sehingga tidak dapat mengimbangi kecepatan jalan nya bajak (edet), membuat pupuk dasar tidak terbagi dan tidak terimbun dengan baik. Sangat beruntung saat itu saya langsung terjun mengawasinya sehingga kekurangan tersebut dapat segera saya minimalisir.
Proses menanaman, kembali lagi terjadi kesalahan dalam proses penanaman yaitu memotong bibit dengan golok yang menyebabkan pecahnya batang, dan hal ini langsung saya perbaiki caranya dengan menggunakan gergaji.
Pengaturan tenaga kerja yang tidak tepat terjadi sehingga banyak terjadi pemborosan waktu yang mana upah tenaga kerja adalah upah harian, dan saat itu juga segera saya atasi sehingga tenaga kerja dapat saya optimalkan secara optimal.
Ternyata sungguh sangat perlu di perhatikan bahwa dalam bertani banyak sekali faktor pengolahan lahan yang dapat menyebabkan hasil panen menjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan karena kasalahan atau kelalaian kecil dalam setiap proses penanaman.
Semoga ini dapat menjadi masukan bagi para petani bawasanya tidak cukup dengan modal yang maksimal tapi juga harus melakukan penanaman dengan cara yang optimal juga.
salam petani Indonesia
by-esawe
Selasa, 14 Oktober 2014
Harga Singkong November 2014
Siang tadi baru saja saya mendapat informasi dari tukang kebun saya bahwa singkong saat ini harga Lampung timur mencapai 1.190 /kg, sungguh harga yang sangat menggiurkan, tapi apadaya singkongku belum layak panen. Bahka musim kemarau tahun ini sunggu luar biasa. Sehingga membuat sinkong singkongku seperti gagal tumbuh. alias buahnya tidak sesuai dangan umur.
salam petani Indonesia
by : esawe
salam petani Indonesia
by : esawe
Selasa, 07 Oktober 2014
Mencetak Kebun Buah Buahan
Semua satu persatu sudah mulai nampak hasilnya dan apa yang terjadi saat ini masih belum menunjukan sentimen positif pada aktual hasil panen. Dari hasil yang telah saya lewati semua masih cukup memprihatinkan :
1. Kebun karet harga saat ini cenderung turun dan turun dan per bulan September 2014 ini harga
hanya Rp. 5.000,- per kilogram (karet mingguan) betapa rontoknya harga yang belum bisa
menggantikan income saya sebagai karyawan saat ini.
2. Kebun sawit mimpi indah dulu terealisasi dengan penurunan hasil panen secara terus menerus
hampir hasil panen tak dapat di jadikan pengganti income saya sebagai karyawan saat ini, dimana
hasil panen dari bulan Juli 2014 mengalami penurunan yang tak henti hentinya sampai panenan
perbulan September 2014 dengan areal kurang lebih 2 ha hanya menghasilkan 240 kg TBS.
sungguh mengerikan.
3. Kebun singkong angan angan yang penuh dengan kalkulasi dan perhitung matekmatik juga tidak
bisa meralisasikan apa yang di cita citakan, panenan tahun lalu di hadapkan dengan menunggu
harga layak dan curah hujan yang tinggi. Akibatnya maju kena mundur kena. Di jual rugi karena
harga rendah di tahan rugi karena banyak yang busuk akibat curah hujan yang tinggi. Dan
terjadi gagal tumbuh akibat kemarau yang sangat kering.
Harapan seakan semakin mejauh semua tak realisasikan dengan prima, ada saja yang membuat saya gagal dalam bertani. Akan tetapi sudah niat saya untuk terus maju menjadi petani yang madani saya tak putus asa, saya cari terus celah ekonomi di bidang pertanan. Satu hal yang sekarang menggelitik mimpi saya adalah sebuah pertanyaan apalagi yang dapat di olah dari lahan lahan yang ada agar dapat menghasilkan produktifitas yang cukup bernilai ekonomis, sekarang adalah mencari ide ide yang mana dengan lahan yang terbatas atau yang tidak luas dapat menghasilkan ration pendapatan yang tinggi, sehingga terjadi efisiensi lahan, karena apa yang telah ditanam saat ini adalah jenis tanaman yang memerlukan areal yang cukup luas untuk menghasilkan pendapatan yang layak. Seperti halnya sawit saya membutuhkan lahan berhektar hektar agar pendapatan saya layak untuk hidup seperti saat ini ketika saya masih menjadi karyawan, demikian karet dan singkong semua adalah jenis tanaman yang harus di tanam dalam suatu areal yang sukup luas. Berfikir dan terus berfikir untuk mencari terobosan agar apa yang saya harapkan dapat menjadi kenyataan.
Buah buahan adalah alternatif yang saya temukan setelah sekian lama berfikir dan berfikir untuk mencari celah nasib di bidang pertanian ini, awalnya ketika saya mengalami kegagalan panen singkong yang membuat saya merugi, ke kecewaan itu sempat terobati oleh pohon duku yang kala itu saya sisakan alias tidak saya tebang, ketika saya sedang lemas menelan gagal panen ternyata pohon pohon duku tersebut mengalami panen raya, wah terasa tersiram air hujan di musim kemarau rasanya. Hasilnya cukup lumayan dengan menjual "tebas" jual di pohon saja saya memperoleh uang Rp. 20.000.000,- dari seluruh total pohon duku itu pun satu pohon tidak saya jual karena untuk oleh oleh tetangga dan untuk di makan bersama pengurus kebun, padahal pohon pohon duku tersebut sama sekali tidak pernah tersentuh oleh perawatan, saya biarkan tumbuh begitu saja tanpa pemupukan dan tumbuh bersama semak semak yang sangat lebat. Saya sempat berfikir apakah ini suatu hal yang harus saya kembangkan ? tapi semua berlalu begitu saja. Selang beberapa bulan berjalan saya pergi ke kebun singkong saya kembali lagi saya sempat terpukul oleh pertumbuhan singkong saya tidak sesuai dengan umur, sihingga bayangan kerugian sudah terbayang jelas dengan kondisi yang lemas saya mengunjungi kebun karet saya yang lokasinya sekitar 20 km dari lokasi kebun singkong saya, niat saya adalah ingin memupuk pupuk lanjutan per 2 bulan sejak setelah panen raya itu. Setelah selesai memupuk saya sempatkan untuk melihat lihat pohon karet saya dan ketika saya sedang melihat lihat pohon karet, mata saya terfokus melihat pohon pohon durian yang dahulu waktu membuka lahan untuk di tanami karet belum sempat saya tebang, betapa terkejutnya saya karena ternyata sekita 15 batang pohon durian yang tersisa semua sedang berbunga sangat lebat. Pengalaman yang kedua kali ini setelah duku yang lalu membuka fikiran saya yang berlalu dan terpendam dalam kesibukan saya.
Saat ini saya sedang mempersiapkan penanaman pohon buah buahan untuk di tanam di musin penghujan nanti, tentunya pohon buah buahan yang saya tanam haruslah yang mempunyai nilai jual yang tinggi karena saya hanya memanfaatkan sisa sisa area di kebun karet tidak tertanam pohon karet, agar hasil yang di peroleh sangat efektif dan optimal. Saat ini saya sedang mencari 14 jenis buah buahan yang bernilai jual tinggi dan cocok dengan kondisi dan situasi kebun saya.
Salam Petani Indonesia
by-esawe
1. Kebun karet harga saat ini cenderung turun dan turun dan per bulan September 2014 ini harga
hanya Rp. 5.000,- per kilogram (karet mingguan) betapa rontoknya harga yang belum bisa
menggantikan income saya sebagai karyawan saat ini.
2. Kebun sawit mimpi indah dulu terealisasi dengan penurunan hasil panen secara terus menerus
hampir hasil panen tak dapat di jadikan pengganti income saya sebagai karyawan saat ini, dimana
hasil panen dari bulan Juli 2014 mengalami penurunan yang tak henti hentinya sampai panenan
perbulan September 2014 dengan areal kurang lebih 2 ha hanya menghasilkan 240 kg TBS.
sungguh mengerikan.
3. Kebun singkong angan angan yang penuh dengan kalkulasi dan perhitung matekmatik juga tidak
bisa meralisasikan apa yang di cita citakan, panenan tahun lalu di hadapkan dengan menunggu
harga layak dan curah hujan yang tinggi. Akibatnya maju kena mundur kena. Di jual rugi karena
harga rendah di tahan rugi karena banyak yang busuk akibat curah hujan yang tinggi. Dan
terjadi gagal tumbuh akibat kemarau yang sangat kering.
Harapan seakan semakin mejauh semua tak realisasikan dengan prima, ada saja yang membuat saya gagal dalam bertani. Akan tetapi sudah niat saya untuk terus maju menjadi petani yang madani saya tak putus asa, saya cari terus celah ekonomi di bidang pertanan. Satu hal yang sekarang menggelitik mimpi saya adalah sebuah pertanyaan apalagi yang dapat di olah dari lahan lahan yang ada agar dapat menghasilkan produktifitas yang cukup bernilai ekonomis, sekarang adalah mencari ide ide yang mana dengan lahan yang terbatas atau yang tidak luas dapat menghasilkan ration pendapatan yang tinggi, sehingga terjadi efisiensi lahan, karena apa yang telah ditanam saat ini adalah jenis tanaman yang memerlukan areal yang cukup luas untuk menghasilkan pendapatan yang layak. Seperti halnya sawit saya membutuhkan lahan berhektar hektar agar pendapatan saya layak untuk hidup seperti saat ini ketika saya masih menjadi karyawan, demikian karet dan singkong semua adalah jenis tanaman yang harus di tanam dalam suatu areal yang sukup luas. Berfikir dan terus berfikir untuk mencari terobosan agar apa yang saya harapkan dapat menjadi kenyataan.
Buah buahan adalah alternatif yang saya temukan setelah sekian lama berfikir dan berfikir untuk mencari celah nasib di bidang pertanian ini, awalnya ketika saya mengalami kegagalan panen singkong yang membuat saya merugi, ke kecewaan itu sempat terobati oleh pohon duku yang kala itu saya sisakan alias tidak saya tebang, ketika saya sedang lemas menelan gagal panen ternyata pohon pohon duku tersebut mengalami panen raya, wah terasa tersiram air hujan di musim kemarau rasanya. Hasilnya cukup lumayan dengan menjual "tebas" jual di pohon saja saya memperoleh uang Rp. 20.000.000,- dari seluruh total pohon duku itu pun satu pohon tidak saya jual karena untuk oleh oleh tetangga dan untuk di makan bersama pengurus kebun, padahal pohon pohon duku tersebut sama sekali tidak pernah tersentuh oleh perawatan, saya biarkan tumbuh begitu saja tanpa pemupukan dan tumbuh bersama semak semak yang sangat lebat. Saya sempat berfikir apakah ini suatu hal yang harus saya kembangkan ? tapi semua berlalu begitu saja. Selang beberapa bulan berjalan saya pergi ke kebun singkong saya kembali lagi saya sempat terpukul oleh pertumbuhan singkong saya tidak sesuai dengan umur, sihingga bayangan kerugian sudah terbayang jelas dengan kondisi yang lemas saya mengunjungi kebun karet saya yang lokasinya sekitar 20 km dari lokasi kebun singkong saya, niat saya adalah ingin memupuk pupuk lanjutan per 2 bulan sejak setelah panen raya itu. Setelah selesai memupuk saya sempatkan untuk melihat lihat pohon karet saya dan ketika saya sedang melihat lihat pohon karet, mata saya terfokus melihat pohon pohon durian yang dahulu waktu membuka lahan untuk di tanami karet belum sempat saya tebang, betapa terkejutnya saya karena ternyata sekita 15 batang pohon durian yang tersisa semua sedang berbunga sangat lebat. Pengalaman yang kedua kali ini setelah duku yang lalu membuka fikiran saya yang berlalu dan terpendam dalam kesibukan saya.
Saat ini saya sedang mempersiapkan penanaman pohon buah buahan untuk di tanam di musin penghujan nanti, tentunya pohon buah buahan yang saya tanam haruslah yang mempunyai nilai jual yang tinggi karena saya hanya memanfaatkan sisa sisa area di kebun karet tidak tertanam pohon karet, agar hasil yang di peroleh sangat efektif dan optimal. Saat ini saya sedang mencari 14 jenis buah buahan yang bernilai jual tinggi dan cocok dengan kondisi dan situasi kebun saya.
Salam Petani Indonesia
by-esawe
Musim Trek Kelapa Sawit 2014
Udara yang menyeka muka ku cukup terasa panas sekali terik matahari, serta keringnya tanah yang ku injak sangat menggabarkan betapa keringnya kemarau tahun ini, meskipun sudah menginjak di bulan yang ke 10 di tahun 2014 ini namun, sudah hampir 2 bulan sejak hari raya lebaran tak setetes air pun yang jatuh di kebun sawit ku, sungguh tahun ini sangatlah terasa sulit bagi para petani sawit.Saat ini barulah saya betul betul merasakan inilah nasib menjadi petani kelapa sawit, betapa tidak hasil panen dengan luas lahan kurang lebih 2 ha yang biasanya bisa menghasilkan minimal 1,5 ton setiap panen, kini hanya bisa dipanen dengan 0,2 - 0,5 ton perpanen bayangkan cukup fantastis sekali hasil nya...... dari hasil catatan saya produksi sudah mulai turun beberapa bulan yang lalu mulai dari 0,9ton, 0,8ton, 0,6 ton 0,5ton bahkan terakhir hanya 0,2ton. Coba saya hitung dengan tonase seperti itu, berapa batang pohon kah yang berbuah ? sungguh mengerikan.
Bagaimana seorang petani sawit yang hanya mempunyai lahan 2 hektar ? saya sudah bisa pastikan mereka hanya dapat memenuhi kebutuhan primernya saja bahkan mungkin kurang, karena ketika panen raya pun sudah dipastikan harga akan mengalami penurunan, sempat ada rumor untuk kelapa sawit adalah ada buah gak ada harga, ada harga gak ada buah. Petani sawit akan selalu terjepit dan akan selalu meregang dompet hihihihihi..... sungguh memilukan.
Sempat saya membaca testimoni atau artikel artikel di berbagai blog atau media sosial lainya yang selalu mengutarakan bahwa betapa indahnya bertani sawit, ternyata setelah saya alami sendiri itu semua hanya hitungan metematik saja dimana ada pertambahan dan perkalian dan pengurangan akan ketemu sebuah hasil yang ideal bahkan hasil yang maksimal, sedangkan foktor - faktor lain terabaikan dalam pengungkapan di setiap testimoni atau artiket yang menyebabkan perbedaan yang cukup besar antara hitungan dengan kenyataan.
Setelah saya mengalami sendiri apa yang terjadi maka saya ingin sekali menulis di blog ini sebagai gambaran pait nya menanam sawit, tapi apa yang saya alami ini mungkin bukan merupakan parameter tunggal untuk sebuah opini, mungkin teman-teman yang lain tidak sependapat dengan saya karena mungkin hasil sawitnya masih tetap bisa diharapkan walau memang ada penurunan tapi tidak seektrim sawit saya, silahkan menanggapi pengalaman saya ini. Paling tidak tulisan saya ini akan menjadi pertimbangan bagi para petani yang akan terjun ke dunia sawit agar lebih memperhitungkan bukan hanya dengan pethitungan diatas kertas atau secata matematik saya tapi lebih menyeluruh terhadap dapak dan resiko nya.
salam petani Indonesia
by- esawe
Rabu, 10 September 2014
UMPAH MINIMUN REGIONAL (UMR) DAN HARGA MINIMUM KOMODITI REGIONAL (HMKR)
Apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kenyataan yang pahit yang berkepanjangan, yang sangat menyedihkah, yang sedang menimpa para petani karet. Betapa tidak ? sudah hampir satu tahun harga karet mingguan mengalami penurunan yang pelahan tapi pasti mencekik para petani. Harga yang berawal dari Rp. 15.000,- / Kg berangsur turun hingga saat ini tanggal 10 September 2014 menjad Rp.5.000 / Kg.
Sungguh sangat ironis, adakah kesalahan langkah dari masing masing pelaku dalam hal ini petani dan pengguna bahan baku karet atau bahkan pemerintah. Dimana telah terjadi ketidak seimbangan pasar. Lebih ironis lagi keputus asaan masyarakat yang sudah behujung pada suatu keprustasian masal yaitu mereka berbondong bondong membongkar lahan karetnya dan mengganti dengan tanaman singkong.
Hal seperti ini tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari pemerintah, seharusnya pemerintah harus mampunyai standar harga layak, seperti halnya pemerintah dapat menetapkan UMP ( upah minimun propinsi). Standar harga ini bisa kita istilahkan dengan HMKR (standar harga minimum regional) saya tidak mengerti dengan pemerintah yang sangat tidak perduli dengan kondisi ini. Dan tidak ada gebrakan dari pemerintah untuk urusan ini.
Mengapa perlu di adakah HMKR karena komoditi ini adalah suatu rangkaian dari proses Industri seperti halnya ketika tenaga kerja formal yang notabone nya adalah masuk dalam areal Industri dimana sebuah industri akan menghasilkan barang industri yang mempunya nilai ekonomis dan mempunyai motivasi ke untungan atau laba, makan agar terjadi suatu keadilan sosial maka suatu keuntungan dari hasil Industri itu tidak boleh menyengsarakan penunjungnya, dalam hal ini selain tenaga kerja sebagai penunjang dalam proses produksi yang harus di lindungi oleh pemerintah, maka petani penghasil komoditi untuk bahan baku Industri pun seharusnya mendapatkan perlindungan yang sama dengan tenaga kerja.
Karena seperti tenaga kerja, para petani pun mempunyai kebutuhan dan keinginan yang sama, yaitu keinginan untuk hidup layak. Dalam kondisi saat ini sangat tidak layak bagi para petani karet dengan harga Rp. 5.000/ kg karet mingguan.
salam petani Indonesia
by-esawe
Langganan:
Postingan (Atom)





